
USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA MELAKUKAN FREE SEX DI PERGURUAN TINGGI
BERBASIS AGAMA
DI PURWOKERTO
BIDANG KEGIATAN:
PKM-P
DIUSULKAN OLEH:
Isah 1107010025
(2011)
Ika Fajriyati 1107010027 (2011)
Ima Rotus solikhah 1006010037
(2010)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
PURWOKERTO
2012

A.
Judul
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA MELAKUKAN FREE SEX DI PERGURUAN TINGGI
BERBASIS AGAMA
DI PURWOKERTO
B.
Latar Belakang
Remaja merupakan masa peralihan dari
masa anak-anak menuju masa pubertas. Pada masa ini remaja mulai memperhatikan
penampilan tubuhnya dengan diiringi perubahan fisik yang begitu cepat.
Perkembangan remaja yang semakin matang memicu rasa ingin tahu yang besar
mengenai berbagai macam hal, biasanya remaja mulai mementingkan penampilan
pribadi mulai dari ujung rambut sampai kaki agar terlihat sempurna. Gaya hidup American
Style menjadi trend center bagi mereka agar terlihat modern
sehingga tidak dianggap kampungan dan lebih mudah diterima dikalangan remaja.
Kehidupan ini cenderung dekat dengan dunia malam seperti clubbing dan
lain sebagainya. Rasa penasaran pada remaja mendorong mereka untuk mencoba hal
baru seperti minum alchohol, memakai obat-obatan terlarang selain itu
para remaja juga mulai mencari informasi tentang seks dari berbagai macam
sumber. Sumber tersebut bisa dari berbagi pengalaman dengan teman, media massa
contohnya internet, dan pengaruh pergaulan yang mendorong mereka untuk
melakukan perilaku yang menyimpang.
Perilaku seksual dan perkembangan
seksual sangat bervariasi dan sangat multiphase. Perilaku adalah akhir dari
produk system interaksi yang selalu berubah setiap saat, yang menurut Sadarjoen
bersifat biopsikososial. Perkembangan seksual sangat tergantung pada faktor
konstitusional, pengaruh lingkungan, dan kejadian aksidental juga termasuk
pengalaman-pengalaman traumatik (Sadarjoen, Jawa Pos, 22/02/2004).
Pada masyarakat yang masih
tradisional, seks dianggap sebagai sesuatu yang sangat sakral, tinggi, suci,
dan hanya boleh dilakukan didalam sebuah hubungan yang dinaungi oleh sebuah
lembaga pernikahan. Keadaanya sangat berbeda di dalam masyarakat modern, seks
bukanlah simbol-simbol yang sakral dan harus dihormati. Seks dapat dilakukan
kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, tanpa ikatan nikah. Hal ini
dijadikan simbol oleh mahasiswa yang ingin dikatakan sebagai bagian masyarakat
modern.
Hal ini diperkuat oleh data hasil Penelitian
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dilakukan
diantara tahun 1999-2000, menyebutkan bahwa 2,9% remaja di Jawa Timur, Jawa
Tengah, Jawa Barat, dan Lampung pernah melakukan aktivitas seksual. Hasil
penelitian itu juga menyebutkan setidaknya 3,4% responden laki-laki dan 31,2%
responden perempuan dari keseluruhan 8.000 orang yang menjadi responden
mempunyai teman yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah (Iip Wijayanto,
2003).
Tidak ketinggalan pula Gatra
pada tahun 1999 menyajikan hasil investigasi mereka dimana 7,5% responden
menganggap kumpul kebo sebagai hal yang wajar (Gatra, 1999). Seks diluar nikah
sudah menjadi trend. Hasil posting yang dilakukan oleh Radar Jawa Pos soal
keperawanan mahasiswi Yogyakarta sangat mencengangkan. Jumlah responden 1.660
mahasiswi, rata-rata pernah melakukan seks bebas, misalnya petting, oral,
hingga anal seks. Bahkan dahsyatnya 98% pernah aborsi. Melakukan aborsi 2 kali
(23 responden), dan lebih dari 2 kali (12 responden), tempat mereka melakukan
seks bebas persentasenya adalah kos pria 63%, tempat kos wanita 14% dan dihotel
kelas melati 21%, sisanya melakukan ditempat wisata.
Sementara itu sedikitnya 38.288
remaja di Kabupaten Bandung diduga pernah berhubungan intim diluar nikah atau
melakukan seks bebas. Jumlah ini berdasarkan hasil polling “Sahabat Anak
Remaja (Sahara) Indonesia Foundation” yang terungkap pada seminar dan lokakarya
“Kependudukan dan Kualitas Remaja” di Banjaran. Menurut wakil ketua Sahara,
Agus Mokhtar Sidiq, hasil poling tersebut dikaitkan dengan realitas kehidupan remaja
di Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil poling lewat telepon, sebetulnya 20%
dari 1.000 remaja pernah melakukan seks bebas. Hasil itu terjadi pada remaja
didaerah perkotaan seperti soreang, Banjaran, dan lain-lain. Setelah dikaitkan
dengan kenyataan dan bahkan banyak para remaja yang tinggal dipedesaan kami
perkirakan 5 sampai 7% remaja di Kabupaten Bandung telah melakukan seks bebas.
Jumlah remaja di Kabupaten Bandung sebanyak 765.762, jadi remaja yang melakukan
seks bebas antara 38.288 hingga 53.603 orang. Dari hasil polling juga
diketahui, dari sekitar 200 remaja yang melakukan seks bebas itu, 50% atau 100
remaja itu hamil. Ironisnya, sebanyak 90 dari 100 remaja yang hamil tersebut
ternyata melakukan aborsi. Keadaan itu sangat memprihatinkan. Meski hasil itu
belum mewakili remaja di Kabupaten Bandung, Agus mengatakan bahwa seks bebas
itu sangat memprihatinkan. Ditegaskan Agus, hasil polling juga menunjukkan
sekitar 400 dari 1.000 remaja pernah melakukan ciuman bibir, mencium leher,
serta menggerayangi tubuh pasangannya. Jadi, total remaja yang melakukan ciuman
bibir hingga hubungan intim adalah 600 orang atau 60% (www.pikiranrakyat.com).
Fenomena yang terjadi di Purwokerto
menurut hasil penelitian Rr. Setyawati pada tahun 2011 menyatakan bahwa
perilaku seksual sebelum menikah pada siswa SMP mencakup semua indikator pada
kuisioner penelitian. Responden yang telah berpacaran sebanyak 50% dengan
perilaku seksual yang terjadi meliputi paling banyak melihat film porno
sebanyak 53%, 60% sumber memperoleh majalah porno dan film porno berasal dari
teman-teman. Perilaku seksual yang lain meliputi masturbasi/onani sebanyak 52%,
ciuman bibir 50%, ciuman leher dada 23% sampai hubungan seksual. Pengaruh teman
sebaya sangat besar bagi remaja, hal tersebut berdasarkan data bahwa 70% remaja
mendapat majalah porno dari teman-teman, 61% melihat film porno diperoleh dari
teman sebaya juga. Masa 0-6 bulan merupakan waktu paling singkat bagi remaja
untuk berciuman bibir 70%, leher dada sebanyak 88%. Artinya di sini remaja
tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ciuman sampai ke area seksual
di sekitar leher dan dada. Hubungan seksual telah dilakukan responden sebanyak
3 orang.
Dari hasil penelitian-penelitian dan
fenomena yang terjadi diatas perilaku seksual yang terjadi di Purwokerto dalam
beberapa tahun belakangan ini menimbulkan kekhawatiran berbagai kalangan. Pada
masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam
pembentukkan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Informasi dari
orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama
sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi
mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan
dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki
informasi yang cukup mengenal aktivitas seksual mereka sendiri. (Hanbook of
adolecent psychology,1980 )
Pada masa remaja khususnya mahasiswa
rasa ingin tahu terhadap perilaku seksual sangat tinggi sehingga mereka merasa
tertantang untuk melakukan perilaku seksual tersebut apalagi banyak faktor yang
dapat mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan Free sex. Di Purwokerto
mempunyai banyak universitas yang baik yang banyak dijadikan mahasiswa luar
kota untuk meneruskan studinya. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas malam di
kafe-kafe, kontrakan, rumah kos tanpa induk semang yang rentan digunakan untuk
melakukan free sex. Bahkan ada juga yang memanfaatkan rumah pasangangannya
ketika tak berpenghuni untuk melakukan hal tersebut. Yang lebih memprihatinkan,
pihak kampus tidak memiliki langkah-langkah penyelesaian sebagai bentuk respon
terhadap masalah yang sedang melanda mahasiswanya serta lingkungan masyarakat
sekitar kampus yang cenderung lepas tangan dan menutup mata. Hal ini disebabkan
pengaruh paradigma masyarakat perkotaan yang cenderung tidak memperhatikan dan
mempermasalahkan semua aktivitas yang ada disekelilingnya, dalam arti lain
mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Adapun faktor lain yang mendorong
terjadinya perilaku seks bebas adalah jarak yang memisahkan dengan orang tua,
pengaruh dunia pariwisata dan budaya, lemahnya kontrol induk semang di rumah
kost, ditunjang dengan semakin maraknya aksi pornografi dan pornoaksi di media
massa. Semuanya berimplikasi kepada longgarnya tatanan moral serta pelaku seks
bebas ini muncul karena kekurangtaatan kepada ajaran agama, lingkungan
pergaulan yang tidak sehat, dorongan seksual yang tidak bisa dikendalikan.
Padahal perguruan tinggi berbasis
agama di Purwokerto telah menanamkan berbagai kegiatan pembentukan moralitas
dan akhlak pada mahasiswanya sejak awal perkuliahan namun hasilnya sungguh
menyedihkan. Realitas Free sex dikalangan mahasiswa di perguruan tinggi
berbasis agama di Purwokerto ditemukan 3 responden yang sempat kami wawancarai
. oleh karena itu penelitian ini perlu dilaksanakan agar dapat meminimalisir
perilaku Free sex dikalangan mahasiswa.
C.
PERUMUSAN MASALAH
Merujuk dari latar belakang diatas,
perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Mengapa mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra
nikah?
2.
Apa yang mendorong mahasiswa melakukan Free sex atau
hubungan seks pra nikah?
D.
TUJUAN
Merujuk pada perumusan masalah
diatas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk mengetahui alasan mahasiswa melakukan Free sex atau
hubungan seks pra nikah
2.
Untuk mendeskripsikan fakta faktor-faktor yang mendorong mahasiswa
melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah
E.
LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1.
Di temukannya faktor-faktor yang mendorong mahasiswa melakukan Free
sex atau hubungan seks pra nikah
2.
Sebagai alternative solusi yang dapat digunakan oleh
universitas-universitas di daerah purwokerto untuk menanggapi kasus-kasus Free
sex atau hubungan seks pra nikah yang terjadi pada mahasiswanya.
3.
Untuk meminimalisir mahasiswa dalam melakukan kegiatan Free sex
atau hubungan seks pra nikah
F.
KEGUNAAN
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1.
Bagi peneliti
Peneliti mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi mahasiswa melakukan Free sex dan menjadikan
kasus-kasus tersebut sebagai bahan perenungan sehingga mencoba melindungi diri
agar tidak terjerumus dalam penyimpangan perilaku Free sex tersebut.
2.
Bagi Masyarakat
Mendeskripsikan realita sosial
kepada masyarakat tentang adanya perilaku Free sex dikalangan mahasiswa
sehingga masyarakat lebih peka menanggapi hal tersebut.
3.
Bagi Perguruan tinggi di Purwokerto
Bahan informasi bagi pengembangan pembinaan kemahasiswaan.
G.
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut (Kartini kartono; 2007) seks
adalah satu mekanisme dimana manusia mampu mengadakan keturunan. Seks merupakan
mekanisme yang vital sekali dimana manusia mengabadikan jenisnya. Di samping
hubungan sosial biasa, di antara wanita dan pria itu bisa terjadi hubungan
khusus yang sifatnya erotis, yang disebut sebagai relasi seksual.
Dengan relasi seksual ini kedua belah pihak menghayati bentuk kenikmatan dan
puncak kepuasan seksual atau orgasme, jika dilakukan dalam hubungan yang
normal sifatnya. Hubungan seksual di antara dua jenis kelamin yang berlainan
sifat dan jenisnya (antara seorang pria dan seorang wanita) itu disebut sebagai
relasi hetero-seksual.
Laki-laki dan wanita dapat
dikategorikan dewasa apabila mereka mampu melakukan relasi seksual yang adekwat
(sehat, normal, dan bertanggung jawab). Hubungan seksual yang normal itu
mengandung pengertian sebagai berikut :
1.
Hubungan tersebut tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan, baik
bagi sendiri maupun bagi partnernya.
2.
Tidalk menimbulkan konflik-konflik psikis dan tidak bersifat
paksaan dan perkosaan.
Hubungan seks yang tidak memenuhi
kriteria tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hubungan tidak normal dan
menjurus pada hubungan Free sex.
Sedangkan relasi seks yang
bertanggung jawab itu mengandung pengertian kedua belah pihak menyadari akan
konsekuensinyadan berani memikul tanggung jawab terhadapnya. Relasi seksual
harus dilakukan dalam batas-batas norma etis/susila sesuai dengan norma
masyarakat dan norma agama.
Bentuk relasi seks yang Abnormal
(tidak normal) dan perverse (Buruk, jahat) adalah relasi seks yang tidak
bertanggung jawab, didorong oleh kompulsi-kompulsi dan dorongan-dorongan yang
abnormal. Dorongan-dorongan yang abnormal misalnya promisculty.
Promusculty adalah hubungan seks secara bebas dan awut-awutan dengan siapapun
juga dan dilakukan dengan banyak orang. Promisculty ini merupakan tindak
seksual immoral, secara terang-terangan dan tanpa malu.malu. biasanya didorong
oleh nafsu-nafsu seks yang tidak terintegrasi atau tidak wajar.
Menurut Masland (2004) dan Mu’tadin
(2002), Free sex meliputi :
1.
Kissing
Ciuman yang dilakukan untuk
menimbulkan rangsangan seksual, seperti di bibir disertai dengan rabaan pada
bagian-bagian yang sensitif yang bisa menimbulakn rangsangan seksual. Berciuman
dengan bibir tertutup merupakan ciuman yang umum dilakukan. Berciuman dengan
bibir dan mulut terbuka dan termasuk menggunakan lidah itulah yang disebut French
kiss. Kadang-kadang ciuman ini juga dinamakan ciuman mendalam/soul kiss.
2.
Necking
Berciuman biasanya termasuk mencium
wajah dan leher. Necking adalah istilah yang umumnya untuk menggambarkan ciuman
dan pelukan yang lebih mendalam.
3.
Petting
Perilaku menggesek-gesekan bagian
tubuh yang sensitive seperti payudara, organ kelamin, merupakan langkah yang
lebih mendalam dari necking. Ini termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh
pasangan termasuk lengan, dada, buah dada, kaki, dan kadang-kadang daerah
kemaluan, entah diluar atau di dalam pakaian.
4.
Intercourse
Besatunya dua orang secara seksual yang dilakukan oleh pasangan
pria dan wanita yang ditandai dengan penis pria yang ereksi masuk ke dalam
vagina untuk mendapatkan kepuasan seksual.
Menurut Gunarsa (1995), Free sex dapat
terjadi karena mempunyai beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.
Waktu, dengan adanya waktu luang yang tidak bermanfaat maka lebih
mudah menimbulkan adanya pergaulan bebas, dalam arti remaja mementingkan hidup
bersenang-senang, berrmalas-malasan, suka berkumpul sampai larut malam yang
akan membawa remaja pada pergaulan bebas.
2.
Kurangnya pelaksanaan dalam menjalankan agama secara konsekuen.
3.
Kurangnya pengawasan terhadap remaja. Remaja beranggapan bahwa
orang tua terlalu ketat sehingga tidak memberikan kebebsan.
4.
Kurangnya pemahaman moral dalam pergaulan remaja bahkan
dimasyarakat.
5.
Pengaruh norma budaya dari luar. Para remaja menelan begitu saja
apa yang dilihatnya dari budaya barat.
Sedangkan menurut Sarwono (2002),
hal-hal yang berpengaruh terhadap Free sex pada remaja adalah :
1.
Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri remaja.
Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja.
Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku
seksual tertentu.
2.
Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri remaja.
a.
Penundaan usia perkawinan, baik secara hukum maupun norma social
yang menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan,
pekerjaan, persiapanmental, dan lain-lain)
b.
Norma agama yang berlaku melarang perilaku free sex bisa
mendorong remaja melakukan senggama, seperti berpegangan tangan, berciuman
sendiri dengan pasangan ditempat sepi.
c.
Adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media
massa yaitu dengan adanya teknologi yang canggih seperti VCD, Internet,
majalah, TV, video. Remaja cenderung ingin tahu dan ingin mencoba-coba serta
meniru dengan apa yang dilihat dan didengarnya, khususnya karena remaja pada
umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang
tuanya.
Seksualitas di definisikan secara
luas sebagai suatu keinginan untuk menjalin kontak, kehangatan, kemesraan, atau
mencintai, respon seksual meliputi memandang, berpegangan tangan, berciuman
atau memuaskan diri sendiri dan sama-sama menimbulkan orgasme, seksualitas
merupakan bagian dari perasaan terhadap diri yang ada pada individu secara
menyeluruh (Madan, 1995)
Dari pengertian diatas disimpulkan Free
sex adalah hubungan seks yang dilakukan dengan orang yang berdasarkan suka
sama suka mulai dari kissing, necking, petting dan Intercourse.
H.
METODE PENELITIAN
Pendekatan
Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian explanatory survey,
dengan pendekatan cross sectional study.
Subjek
Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Perguruan Tinggi
berbasis Agama di Purwokerto dengan jumlah total 7,596 mahasiswa , kemudian sampel diambil menggunakan teknik kluster random
sampling, dan data dikumpulkan dengan kuisioner.
Metode
dan Instrumen Pengumpulan data
Dalam
penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan :
a.
Metode survey adalah pengamat untuk mengamati subjek penelitian
secara sistematik dan sekaligus ditanya menggunakan kuisioner. kuisioner yaitu
untuk mengungkap perilaku Free sex pada Mahasiswa.
b.
Metode wawancara. Wawancara yang kami maksud adalah terpimpin atau
wawancara dimana poin-poin pertanyaan sudah disiapkan terlebih dahulu dan
wawancara dengan teknik pertanyaan terbuka untuk mengetahui faktor-faktor yang
mempengaruhi mahasiswa melakukan Free sex
.
Lokasi
Penelitian : Perguruan tinggi berbasis
Agama di Purwokerto
Analisis Data Penelitian
Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul,
maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data secara kualitatif, yaitu
dengan teknik deskriptif kualitatif. Secara umum penelitian akan menggambarkan
atau mendeskripsikan fenomena yang muncul secara objektif tanpa melakukan
intervensi terhadap objek. Karena data berupa deskripsi, maka data yang
dianalisis adalah data kualitatif dan data-data yang merupakan data kuantitatif
berfungsi sebagai analisis untuk membantu memperjelas pendeskripsian data
kualitatif. Sesuai tujuan penelitian, maka data kuantitatif (data-data yang
dapat dikategorikan dalam bentuk angka-angka), analisis yang digunakan antara
lain berupa persentase, sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk
deskriptif kualitatif. Analisis kualitatif yang digunakan adalah analisis
fenomenologis berupa fenomena proses sosial dan interaksi sosial yang terjadi
sepanjang rentang waktu penelitian.
I.
JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Waktu dan tempat penelitian
Waktu : Februari –
Mei 2013
Tempat : Perguruan
tinggi berbasis Agama di Purwokerto
Tahapan pelaksanaan dan tahapan pelaksanaan
Tabel. 1
|
Kegiatan
|
Februari
|
Maret
|
April
|
Mei
|
||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Persiapan
Penyusunan paduan kerja dan pedoman
Pengamatan serta instrument lain yang diperlukan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pelaksanaan siklus I
a.
Perencanaan tindakan
b.
Pelaksanaan dan tindakan observasi
c.
Analisis dan refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Pelaksanaan siklus II
a.
Perencanaan dan tindakan observasi
b.
Pelaksaan dan tindakan observasi
c.
Analisis dan refleksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Analisis data dan penyusunan draf laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Penyelesaian akhir, penggandaan, publikasi penelitian dan
pengiriman hasil
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
J.
RANCANGAN BIAYA
Bahan habis pakai
|
|
Spesifikasi
|
Jumlah
Satuan
|
Harga
Satuan (Rp.)
|
Jumlah
Harga (RP.)
|
Jumlah
Per Jenis Biaya
|
|
a.
|
Kertas
HVS
|
10
rim
|
35.000
|
350.000
|
|
|
b.
|
CD
|
10
buah
|
5.000
|
50.000
|
|
|
c.
|
Refil
tinta printer Canon Pixma ip1200
|
15
buah
|
50.000
|
750.000
|
|
|
d.
|
Materai
|
10
lbr
|
6.000
|
60.000
|
|
|
e.
|
Blocknote
|
9
Buah
|
1.500
|
13.500
|
|
|
Sub jumlah
biaya
|
1.223.500
|
||||
Tabel. 2
Biaya perjalanan dan akomodasi
Tabel. 3
|
|
Spesifikasi
|
Jumlah Harga
(Rp.)
|
Jumlah Per jenis biaya
|
|
a.
|
Mengurus Perijinan
|
200.000
|
|
|
|
Transportasi (3org x 8 hr x 30.000)
|
720.000
|
|
|
|
Konsumsi (3 org x 8 hr x 30.000)
|
720.000
|
|
|
b.
|
Pengambilan data
|
|
|
|
|
Transportasi (9 org x 15 hr x 25.000)
|
3.375.000
|
|
|
|
Konsumsi (9 org x 15 hr x 25.000)
|
3.375.000
|
|
|
Sub
jumlah biaya
|
6.914.000
|
||
Biaya Pelaksanaan Penelitian
Tabel. 4
|
|
Spesifikasi
|
Jumlah Harga (Rp.)
|
Jumlah Per jenis biaya
|
|
a.
|
Penyusunan Instrumen
|
300.000
|
|
|
b.
|
Pengambilan data / skala
|
700.000
|
|
|
c.
|
Koding dan tabulasi data
|
400.000
|
|
|
d.
|
Validasi dan display data
|
500.000
|
|
|
e.
|
Analisis serta integrasi data
|
500.000
|
|
|
f.
|
Interpretasi hasil
|
700.000
|
|
|
Sub
jumlah biaya
|
3.100.000
|
||
Biaya Penyusunan Laporan dan Publikasi
Tabel. 5
|
|
Spesifikasi
|
Jumlah Harga (Rp.)
|
Jumlah Per jenis biaya
|
|
a.
|
Penggandaan proposal 15 lbr x 10 eks x 200
|
30.000
|
|
|
b.
|
Jilid Proposal 10 eks x 3.500
|
35.000
|
|
|
c.
|
Diskusi dan penyusunan laporan akhir
|
250.000
|
|
|
d.
|
Penggandaan laporan 150 lbr x 10 eks x 200
|
300.000
|
|
|
e.
|
Cover dan jilid laporan 10 eks x 3.500
|
35.000
|
|
|
f.
|
Penelusuran Pustaka
|
500.000
|
|
|
g.
|
Seminar dan Publikasi
|
200.000
|
|
|
h.
|
Copy CD 10 buah x 12.000
|
120.000
|
|
|
Sub
jumlah biaya
|
1.220.000
|
||
REKAPITULASI BIAYA PENELITIAN
Tabel. 6
|
|
Jenis Pengeluaran
|
Jumlah (Rp)
|
|
1.
|
Bahan habis pakai
|
1.223.000
|
|
2.
|
Bahan perjalanan dan akomodasi
|
6.914.000
|
|
3.
|
Biaya pelaksanaan penelitian
|
3.100.000
|
|
4.
|
Biaya penyusunan laporan dan publikasi
|
1.220.000
|
|
Total
|
12.457.000
|
|
K.
DAFTAR PUSTAKA
Ijayanto, Iip. 2003. Sex In The Kost. Yogyakarta : CV. Qalam
Kartono, Kartini. 1981. Psikologi Abnormal dan Pathologi Seks,
Bandung : Alumni..
Nawawi,
Handari. 2003. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press.
Rr. Setyawati,
Suwarti, DKK. 2011. Jurnal Penelitian Sainteks : “Profil Perilaku Seks
Sebelum Menikah pada Siswa SMP di Kabupaten Purwokerto”. Purwokerto : LPPM
Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Sadarjan. Jawa
Pos. 22 Februari, 2004.
Sugiyono. 1998. Metode Penelitian
Administrasi. Bandung : CV. Alfabeta.
Suwarti.
2008. Diktat Ajar Psikologi Umum I. Purwokerto : Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Usman, Husaini dan Akbar, Purnomo setiady. Metode
Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara.
Wwww.pikiranrakyat.com.
