Senin, 04 Februari 2013

Faktor-faktor yang mempengaruhi FREE SEX





USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA MELAKUKAN FREE SEX DI PERGURUAN TINGGI BERBASIS AGAMA
DI PURWOKERTO




BIDANG KEGIATAN:
PKM-P




DIUSULKAN OLEH:

            Isah                                         1107010025 (2011)
            Ika Fajriyati                           1107010027 (2011)
            Ima Rotus solikhah               1006010037 (2010)






UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
PURWOKERTO
2012

PKM-P_Isa.jpg
                                                      
A.    Judul


PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MAHASISWA MELAKUKAN FREE SEX DI PERGURUAN TINGGI BERBASIS AGAMA
DI PURWOKERTO


B.     Latar Belakang
Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa pubertas. Pada masa ini remaja mulai memperhatikan penampilan tubuhnya dengan diiringi perubahan fisik yang begitu cepat. Perkembangan remaja yang semakin matang memicu rasa ingin tahu yang besar mengenai berbagai macam hal, biasanya remaja mulai mementingkan penampilan pribadi mulai dari ujung rambut sampai kaki agar terlihat sempurna. Gaya hidup American Style menjadi trend center bagi mereka agar terlihat modern sehingga tidak dianggap kampungan dan lebih mudah diterima dikalangan remaja. Kehidupan ini cenderung dekat dengan dunia malam seperti clubbing dan lain sebagainya. Rasa penasaran pada remaja mendorong mereka untuk mencoba hal baru seperti minum alchohol, memakai obat-obatan terlarang selain itu para remaja juga mulai mencari informasi tentang seks dari berbagai macam sumber. Sumber tersebut bisa dari berbagi pengalaman dengan teman, media massa contohnya internet, dan pengaruh pergaulan yang mendorong mereka untuk melakukan perilaku yang menyimpang.  
Perilaku seksual dan perkembangan seksual sangat bervariasi dan sangat multiphase. Perilaku adalah akhir dari produk system interaksi yang selalu berubah setiap saat, yang menurut Sadarjoen bersifat biopsikososial. Perkembangan seksual sangat tergantung pada faktor konstitusional, pengaruh lingkungan, dan kejadian aksidental juga termasuk pengalaman-pengalaman traumatik (Sadarjoen, Jawa Pos, 22/02/2004).
Pada masyarakat yang masih tradisional, seks dianggap sebagai sesuatu yang sangat sakral, tinggi, suci, dan hanya boleh dilakukan didalam sebuah hubungan yang dinaungi oleh sebuah lembaga pernikahan. Keadaanya sangat berbeda di dalam masyarakat modern, seks bukanlah simbol-simbol yang sakral dan harus dihormati. Seks dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, tanpa ikatan nikah. Hal ini dijadikan simbol oleh mahasiswa yang ingin dikatakan sebagai bagian masyarakat modern.
Hal ini diperkuat oleh data hasil Penelitian Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang dilakukan diantara tahun 1999-2000, menyebutkan bahwa 2,9% remaja di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung pernah melakukan aktivitas seksual. Hasil penelitian itu juga menyebutkan setidaknya 3,4% responden laki-laki dan 31,2% responden perempuan dari keseluruhan 8.000 orang yang menjadi responden mempunyai teman yang pernah melakukan hubungan seks pra nikah (Iip Wijayanto, 2003).
Tidak ketinggalan pula Gatra pada tahun 1999 menyajikan hasil investigasi mereka dimana 7,5% responden menganggap kumpul kebo sebagai hal yang wajar (Gatra, 1999). Seks diluar nikah sudah menjadi trend. Hasil posting yang dilakukan oleh Radar Jawa Pos soal keperawanan mahasiswi Yogyakarta sangat mencengangkan. Jumlah responden 1.660 mahasiswi, rata-rata pernah melakukan seks bebas, misalnya petting, oral, hingga anal seks. Bahkan dahsyatnya 98% pernah aborsi. Melakukan aborsi 2 kali (23 responden), dan lebih dari 2 kali (12 responden), tempat mereka melakukan seks bebas persentasenya adalah kos pria 63%, tempat kos wanita 14% dan dihotel kelas melati 21%, sisanya melakukan ditempat wisata.
Sementara itu sedikitnya 38.288 remaja di Kabupaten Bandung diduga pernah berhubungan intim diluar nikah atau melakukan seks bebas. Jumlah ini berdasarkan hasil polling “Sahabat Anak Remaja (Sahara) Indonesia Foundation” yang terungkap pada seminar dan lokakarya “Kependudukan dan Kualitas Remaja” di Banjaran. Menurut wakil ketua Sahara, Agus Mokhtar Sidiq, hasil poling tersebut dikaitkan dengan realitas kehidupan remaja di Kabupaten Bandung. Berdasarkan hasil poling lewat telepon, sebetulnya 20% dari 1.000 remaja pernah melakukan seks bebas. Hasil itu terjadi pada remaja didaerah perkotaan seperti soreang, Banjaran, dan lain-lain. Setelah dikaitkan dengan kenyataan dan bahkan banyak para remaja yang tinggal dipedesaan kami perkirakan 5 sampai 7% remaja di Kabupaten Bandung telah melakukan seks bebas. Jumlah remaja di Kabupaten Bandung sebanyak 765.762, jadi remaja yang melakukan seks bebas antara 38.288 hingga 53.603 orang. Dari hasil polling juga diketahui, dari sekitar 200 remaja yang melakukan seks bebas itu, 50% atau 100 remaja itu hamil. Ironisnya, sebanyak 90 dari 100 remaja yang hamil tersebut ternyata melakukan aborsi. Keadaan itu sangat memprihatinkan. Meski hasil itu belum mewakili remaja di Kabupaten Bandung, Agus mengatakan bahwa seks bebas itu sangat memprihatinkan. Ditegaskan Agus, hasil polling juga menunjukkan sekitar 400 dari 1.000 remaja pernah melakukan ciuman bibir, mencium leher, serta menggerayangi tubuh pasangannya. Jadi, total remaja yang melakukan ciuman bibir hingga hubungan intim adalah 600 orang atau 60% (www.pikiranrakyat.com).
Fenomena yang terjadi di Purwokerto menurut hasil penelitian Rr. Setyawati pada tahun 2011 menyatakan bahwa perilaku seksual sebelum menikah pada siswa SMP mencakup semua indikator pada kuisioner penelitian. Responden yang telah berpacaran sebanyak 50% dengan perilaku seksual yang terjadi meliputi paling banyak melihat film porno sebanyak 53%, 60% sumber memperoleh majalah porno dan film porno berasal dari teman-teman. Perilaku seksual yang lain meliputi masturbasi/onani sebanyak 52%, ciuman bibir 50%, ciuman leher dada 23% sampai hubungan seksual. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi remaja, hal tersebut berdasarkan data bahwa 70% remaja mendapat majalah porno dari teman-teman, 61% melihat film porno diperoleh dari teman sebaya juga. Masa 0-6 bulan merupakan waktu paling singkat bagi remaja untuk berciuman bibir 70%, leher dada sebanyak 88%. Artinya di sini remaja tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan ciuman sampai ke area seksual di sekitar leher dan dada. Hubungan seksual telah dilakukan responden sebanyak 3 orang.
Dari hasil penelitian-penelitian dan fenomena yang terjadi diatas perilaku seksual yang terjadi di Purwokerto dalam beberapa tahun belakangan ini menimbulkan kekhawatiran berbagai kalangan. Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukkan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenal aktivitas seksual mereka sendiri. (Hanbook of adolecent psychology,1980 )  
Pada masa remaja khususnya mahasiswa rasa ingin tahu terhadap perilaku seksual sangat tinggi sehingga mereka merasa tertantang untuk melakukan perilaku seksual tersebut apalagi banyak faktor yang dapat mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan Free sex. Di Purwokerto mempunyai banyak universitas yang baik yang banyak dijadikan mahasiswa luar kota untuk meneruskan studinya. Hal ini dapat dilihat dari aktifitas malam di kafe-kafe, kontrakan, rumah kos tanpa induk semang yang rentan digunakan untuk melakukan free sex. Bahkan ada juga yang memanfaatkan rumah pasangangannya ketika tak berpenghuni untuk melakukan hal tersebut. Yang lebih memprihatinkan, pihak kampus tidak memiliki langkah-langkah penyelesaian sebagai bentuk respon terhadap masalah yang sedang melanda mahasiswanya serta lingkungan masyarakat sekitar kampus yang cenderung lepas tangan dan menutup mata. Hal ini disebabkan pengaruh paradigma masyarakat perkotaan yang cenderung tidak memperhatikan dan mempermasalahkan semua aktivitas yang ada disekelilingnya, dalam arti lain mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Adapun faktor lain yang mendorong terjadinya perilaku seks bebas adalah jarak yang memisahkan dengan orang tua, pengaruh dunia pariwisata dan budaya, lemahnya kontrol induk semang di rumah kost, ditunjang dengan semakin maraknya aksi pornografi dan pornoaksi di media massa. Semuanya berimplikasi kepada longgarnya tatanan moral serta pelaku seks bebas ini muncul karena kekurangtaatan kepada ajaran agama, lingkungan pergaulan yang tidak sehat, dorongan seksual yang tidak bisa dikendalikan.
Padahal perguruan tinggi berbasis agama di Purwokerto telah menanamkan berbagai kegiatan pembentukan moralitas dan akhlak pada mahasiswanya sejak awal perkuliahan namun hasilnya sungguh menyedihkan. Realitas Free sex dikalangan mahasiswa di perguruan tinggi berbasis agama di Purwokerto ditemukan 3 responden yang sempat kami wawancarai . oleh karena itu penelitian ini perlu dilaksanakan agar dapat meminimalisir perilaku Free sex dikalangan mahasiswa.


C.    PERUMUSAN MASALAH
Merujuk dari latar belakang diatas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengapa mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah?
2.      Apa yang mendorong mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah?

D.    TUJUAN
Merujuk pada perumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui alasan mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah
2.      Untuk mendeskripsikan fakta faktor-faktor yang mendorong mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah

E.     LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1.      Di temukannya faktor-faktor yang mendorong mahasiswa melakukan Free sex atau hubungan seks pra nikah
2.      Sebagai alternative solusi yang dapat digunakan oleh universitas-universitas di daerah purwokerto untuk menanggapi kasus-kasus Free sex atau hubungan seks pra nikah yang terjadi pada mahasiswanya.
3.      Untuk meminimalisir mahasiswa dalam melakukan kegiatan Free sex atau hubungan seks pra nikah

F.     KEGUNAAN
Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah :
1.      Bagi peneliti
Peneliti mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa melakukan Free sex dan menjadikan kasus-kasus tersebut sebagai bahan perenungan sehingga mencoba melindungi diri agar tidak terjerumus dalam penyimpangan perilaku Free sex tersebut.
2.      Bagi Masyarakat
Mendeskripsikan realita sosial kepada masyarakat tentang adanya perilaku Free sex dikalangan mahasiswa sehingga masyarakat lebih peka menanggapi hal tersebut.
3.      Bagi Perguruan tinggi di Purwokerto
Bahan informasi bagi pengembangan pembinaan kemahasiswaan.

G.    TINJAUAN PUSTAKA
Menurut (Kartini kartono; 2007) seks adalah satu mekanisme dimana manusia mampu mengadakan keturunan. Seks merupakan mekanisme yang vital sekali dimana manusia mengabadikan jenisnya. Di samping hubungan sosial biasa, di antara wanita dan pria itu bisa terjadi hubungan khusus yang sifatnya erotis, yang disebut sebagai relasi seksual. Dengan relasi seksual ini kedua belah pihak menghayati bentuk kenikmatan dan puncak kepuasan seksual atau orgasme, jika dilakukan dalam hubungan yang normal sifatnya. Hubungan seksual di antara dua jenis kelamin yang berlainan sifat dan jenisnya (antara seorang pria dan seorang wanita) itu disebut sebagai relasi hetero-seksual.
Laki-laki dan wanita dapat dikategorikan dewasa apabila mereka mampu melakukan relasi seksual yang adekwat (sehat, normal, dan bertanggung jawab). Hubungan seksual yang normal itu mengandung pengertian sebagai berikut :
1.      Hubungan tersebut tidak menimbulkan efek-efek yang merugikan, baik bagi sendiri maupun bagi partnernya.
2.      Tidalk menimbulkan konflik-konflik psikis dan tidak bersifat paksaan dan perkosaan.
Hubungan seks yang tidak memenuhi kriteria tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hubungan tidak normal dan menjurus pada hubungan Free sex.
Sedangkan relasi seks yang bertanggung jawab itu mengandung pengertian kedua belah pihak menyadari akan konsekuensinyadan berani memikul tanggung jawab terhadapnya. Relasi seksual harus dilakukan dalam batas-batas norma etis/susila sesuai dengan norma masyarakat dan norma agama.
Bentuk relasi seks yang Abnormal (tidak normal) dan perverse (Buruk, jahat) adalah relasi seks yang tidak bertanggung jawab, didorong oleh kompulsi-kompulsi dan dorongan-dorongan yang abnormal. Dorongan-dorongan yang abnormal misalnya promisculty. Promusculty adalah hubungan seks secara bebas dan awut-awutan dengan siapapun juga dan dilakukan dengan banyak orang. Promisculty ini merupakan tindak seksual immoral, secara terang-terangan dan tanpa malu.malu. biasanya didorong oleh nafsu-nafsu seks yang tidak terintegrasi atau tidak wajar.
Menurut Masland (2004) dan Mu’tadin (2002), Free sex meliputi :
1.      Kissing
Ciuman yang dilakukan untuk menimbulkan rangsangan seksual, seperti di bibir disertai dengan rabaan pada bagian-bagian yang sensitif yang bisa menimbulakn rangsangan seksual. Berciuman dengan bibir tertutup merupakan ciuman yang umum dilakukan. Berciuman dengan bibir dan mulut terbuka dan termasuk menggunakan lidah itulah yang disebut French kiss. Kadang-kadang ciuman ini juga dinamakan ciuman mendalam/soul kiss.

2.      Necking
Berciuman biasanya termasuk mencium wajah dan leher. Necking adalah istilah yang umumnya untuk menggambarkan ciuman dan pelukan yang lebih mendalam.
3.      Petting
Perilaku menggesek-gesekan bagian tubuh yang sensitive seperti payudara, organ kelamin, merupakan langkah yang lebih mendalam dari necking. Ini termasuk merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan termasuk lengan, dada, buah dada, kaki, dan kadang-kadang daerah kemaluan, entah diluar atau di dalam pakaian.
4.      Intercourse
Besatunya dua orang secara seksual yang dilakukan oleh pasangan pria dan wanita yang ditandai dengan penis pria yang ereksi masuk ke dalam vagina untuk mendapatkan kepuasan seksual.   
Menurut Gunarsa (1995), Free sex dapat terjadi karena mempunyai beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Waktu, dengan adanya waktu luang yang tidak bermanfaat maka lebih mudah menimbulkan adanya pergaulan bebas, dalam arti remaja mementingkan hidup bersenang-senang, berrmalas-malasan, suka berkumpul sampai larut malam yang akan membawa remaja pada pergaulan bebas.
2.      Kurangnya pelaksanaan dalam menjalankan agama secara konsekuen.
3.      Kurangnya pengawasan terhadap remaja. Remaja beranggapan bahwa orang tua terlalu ketat sehingga tidak memberikan kebebsan.
4.      Kurangnya pemahaman moral dalam pergaulan remaja bahkan dimasyarakat.
5.      Pengaruh norma budaya dari luar. Para remaja menelan begitu saja apa yang dilihatnya dari budaya barat.
Sedangkan menurut Sarwono (2002), hal-hal yang berpengaruh terhadap Free sex pada remaja adalah :
1.      Faktor internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri remaja. Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningkatan hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku seksual tertentu.
2.      Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri remaja.
a.       Penundaan usia perkawinan, baik secara hukum maupun norma social yang menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapanmental, dan lain-lain)
b.      Norma agama yang berlaku melarang perilaku free sex bisa mendorong remaja melakukan senggama, seperti berpegangan tangan, berciuman sendiri dengan pasangan ditempat sepi.
c.       Adanya penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa yaitu dengan adanya teknologi yang canggih seperti VCD, Internet, majalah, TV, video. Remaja cenderung ingin tahu dan ingin mencoba-coba serta meniru dengan apa yang dilihat dan didengarnya, khususnya karena remaja pada umumnya belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya.
Seksualitas di definisikan secara luas sebagai suatu keinginan untuk menjalin kontak, kehangatan, kemesraan, atau mencintai, respon seksual meliputi memandang, berpegangan tangan, berciuman atau memuaskan diri sendiri dan sama-sama menimbulkan orgasme, seksualitas merupakan bagian dari perasaan terhadap diri yang ada pada individu secara menyeluruh (Madan, 1995)
Dari pengertian diatas disimpulkan Free sex adalah hubungan seks yang dilakukan dengan orang yang berdasarkan suka sama suka mulai dari kissing, necking, petting dan Intercourse.
H.    METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian explanatory survey, dengan pendekatan cross sectional study.

Subjek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Perguruan Tinggi berbasis Agama di Purwokerto dengan jumlah total 7,596 mahasiswa , kemudian sampel diambil menggunakan teknik kluster random sampling, dan data dikumpulkan dengan kuisioner.

Metode dan Instrumen Pengumpulan data
Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan :
a.       Metode survey adalah pengamat untuk mengamati subjek penelitian secara sistematik dan sekaligus ditanya menggunakan kuisioner. kuisioner yaitu untuk mengungkap perilaku Free sex pada Mahasiswa.
b.      Metode wawancara. Wawancara yang kami maksud adalah terpimpin atau wawancara dimana poin-poin pertanyaan sudah disiapkan terlebih dahulu dan wawancara dengan teknik pertanyaan terbuka untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi mahasiswa melakukan Free sex
.
Lokasi Penelitian : Perguruan tinggi  berbasis Agama di Purwokerto
Analisis Data Penelitian
Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data secara kualitatif, yaitu dengan teknik deskriptif kualitatif. Secara umum penelitian akan menggambarkan atau mendeskripsikan fenomena yang muncul secara objektif tanpa melakukan intervensi terhadap objek. Karena data berupa deskripsi, maka data yang dianalisis adalah data kualitatif dan data-data yang merupakan data kuantitatif berfungsi sebagai analisis untuk membantu memperjelas pendeskripsian data kualitatif. Sesuai tujuan penelitian, maka data kuantitatif (data-data yang dapat dikategorikan dalam bentuk angka-angka), analisis yang digunakan antara lain berupa persentase, sedangkan untuk data kualitatif disajikan dalam bentuk deskriptif kualitatif. Analisis kualitatif yang digunakan adalah analisis fenomenologis berupa fenomena proses sosial dan interaksi sosial yang terjadi sepanjang rentang waktu penelitian.

I.       JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Waktu dan tempat penelitian
Waktu             : Februari – Mei 2013
Tempat            : Perguruan tinggi berbasis Agama di Purwokerto
Tahapan pelaksanaan dan tahapan pelaksanaan
Tabel. 1

Kegiatan
Februari
Maret
April
Mei
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
Persiapan
Penyusunan paduan kerja dan pedoman
Pengamatan serta instrument lain yang diperlukan
















Pelaksanaan siklus I
a.       Perencanaan tindakan
b.      Pelaksanaan dan tindakan observasi
c.       Analisis dan refleksi
















Pelaksanaan siklus II
a.       Perencanaan dan tindakan observasi
b.      Pelaksaan dan tindakan observasi
c.       Analisis dan refleksi
















Analisis data dan penyusunan draf laporan
















Penyelesaian akhir, penggandaan, publikasi penelitian dan pengiriman hasil

















J.      RANCANGAN BIAYA
Bahan habis pakai

Spesifikasi
Jumlah Satuan
Harga Satuan (Rp.)
Jumlah Harga (RP.)
Jumlah Per Jenis Biaya
a.
Kertas HVS
10 rim
35.000
350.000

b.
CD
10 buah
5.000
50.000

c.
Refil tinta printer Canon Pixma ip1200
15 buah
50.000
750.000

d.
Materai
10 lbr
6.000
60.000

e.
Blocknote
9 Buah
1.500
13.500

Sub jumlah biaya
1.223.500
Tabel. 2








Biaya perjalanan dan akomodasi
Tabel. 3


Spesifikasi
Jumlah Harga
(Rp.)
Jumlah Per jenis biaya
a.
Mengurus Perijinan
200.000


Transportasi (3org x 8 hr x 30.000)
720.000


Konsumsi (3 org x 8 hr x 30.000)
720.000

b.
Pengambilan data



Transportasi (9 org x 15 hr x 25.000)
3.375.000


Konsumsi (9 org x 15 hr x 25.000)
3.375.000

Sub jumlah biaya
6.914.000







Biaya Pelaksanaan Penelitian
Tabel. 4


Spesifikasi
Jumlah Harga (Rp.)
Jumlah Per jenis biaya
a.
Penyusunan Instrumen
300.000

b.
Pengambilan data / skala
700.000

c.
Koding dan tabulasi data
400.000

d.
Validasi dan display data
500.000

e.
Analisis serta integrasi data
500.000

f.
Interpretasi hasil
700.000

Sub jumlah biaya
3.100.000

Biaya Penyusunan Laporan dan Publikasi
Tabel. 5


Spesifikasi
Jumlah Harga (Rp.)
Jumlah Per jenis biaya
a.
Penggandaan proposal 15 lbr x 10 eks x 200
30.000

b.
Jilid Proposal 10 eks x 3.500
35.000

c.
Diskusi dan penyusunan laporan akhir
250.000

d.
Penggandaan laporan 150 lbr x 10 eks x 200
300.000

e.
Cover dan jilid laporan 10 eks x 3.500
35.000

f.
Penelusuran Pustaka
500.000

g.
Seminar dan Publikasi
200.000

h.
Copy CD 10 buah x 12.000
120.000

Sub jumlah biaya
1.220.000








REKAPITULASI BIAYA PENELITIAN
Tabel. 6

Jenis Pengeluaran
Jumlah (Rp)
1.
Bahan habis pakai
1.223.000
2.
Bahan perjalanan dan akomodasi
6.914.000
3.
Biaya pelaksanaan penelitian
3.100.000
4.
Biaya penyusunan laporan dan publikasi
1.220.000
Total
12.457.000

K.    DAFTAR PUSTAKA
Ijayanto, Iip. 2003. Sex In The Kost. Yogyakarta : CV. Qalam
Kartono, Kartini. 1981. Psikologi Abnormal dan Pathologi Seks, Bandung : Alumni..
Nawawi, Handari. 2003. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Rr. Setyawati, Suwarti, DKK. 2011. Jurnal Penelitian Sainteks : “Profil Perilaku Seks Sebelum Menikah pada Siswa SMP di Kabupaten Purwokerto”. Purwokerto : LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
Sadarjan. Jawa Pos. 22 Februari, 2004.
Sugiyono. 1998. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : CV. Alfabeta.

Suwarti. 2008. Diktat Ajar Psikologi Umum I. Purwokerto : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Usman, Husaini dan Akbar, Purnomo setiady. Metode Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara.

Wwww.pikiranrakyat.com.





PKM-P_Isah2.jpg



PKM-P_Isah3.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar